Masjid yang terletak di Gampong peulanggahan, didirikan pada tahun 1769 oleh Teungku di Anjong
Monumen Tsunami yang dibangun di Komplek Masjid Tgk Dianjong Gampong Peulanggahan
Kantor Keuchik Gampong Peulanggahan
Gampong Peulanggahan yang terletak di Kecamatan Kutaraja, Kota Banda Aceh, dibentuk secara administratif pada tahun 1902 M. Wilayah ini merupakan bagian dari kota kuno bersejarah yang menjadi pusat dakwah Islam di Aceh pada masa Kesultanan berkat keberadaan tokoh ulama besar. Sejarah Gampong Peulanggahan ini sangat lekat dengan Masjid Teungku di Anjong, sebuah situs cagar budaya yang dibangun pada abad ke-17 atau ke-18. Masjid tersebut didirikan oleh Habib Abu Bakar bin Husain Bilfaqih, seorang ulama besar asal Hadhramaut Yaman, yang lebih dikenal dengan sebutan Teungku di Anjong. Beliau sangat dihormati dan berhasil menjadikan masjid ini sebagai pusat penyebaran ilmu agama, pengembangan dayah (pesantren), hingga persinggahan wajib dan pusat manasik bagi jemaah haji dari Nusantara sebelum berlayar ke Mekkah.
Kawasan ini juga merupakan saksi perjuangan rakyat Aceh melawan kolonialisme Belanda. Kompleks Teungku di Anjong pernah menjadi basis pertahanan dan tempat bermusyawarah para pejuang. Dalam perkembangannya, Peulanggahan diresmikan menjadi gampong yang kini terdiri dari beberapa dusun dan menjadi saksi bisu kejayaan Kerajaan Aceh Darussalam di masa lampau.